.Menghidupkan Kembali Esensi Toleransi
Di tengah hiruk pikuk dunia yang sering kali terbelah oleh perbedaan, kata "toleransi" kerap menjadi slogan semata. Namun, bagi seorang Muslim, toleransi—atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Tasamuh—bukanlah sekadar tren modern atau produk pemikiran Barat. Ia adalah jantung dari ajaran Islam yang telah berdenyut selama lebih dari 1.400 tahun.
1. Keberagaman: Tulisan Indah Sang Pencipta
Islam memandang perbedaan bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai bukti kebesaran Tuhan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa keberagaman suku, bangsa, dan bahasa adalah sarana untuk "Lita'arafu" atau saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13).
Bayangkan sebuah taman. Taman itu tidak akan indah jika hanya berisi satu jenis bunga dengan satu warna. Keindahan taman dunia justru terletak pada gradasi warna, aroma, dan bentuk yang berbeda-beda. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi "penjaga taman" tersebut, bukan perusaknya.
2. Piagam Madinah: Warisan Toleransi Terhebat
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pelopor negara inklusif pertama di dunia. Melalui Piagam Madinah, beliau membangun tatanan masyarakat di mana umat Islam, Yahudi, dan kaum Nasrani hidup berdampingan dengan hak dan kewajiban yang setara sebagai warga negara.
Ini adalah bukti nyata bahwa Islam tidak pernah memaksakan keyakinan. Prinsip "La ikraha fid-din" (Tidak ada paksaan dalam agama) adalah fondasi bahwa keimanan adalah wilayah pribadi antara hamba dan Penciptanya, sementara kerukunan adalah tanggung jawab sosial bersama.
3. Batas Tegas: Toleransi Tanpa Sinkretisme
Sering kali terjadi salah kaprah bahwa toleransi berarti mencampuradukkan ajaran agama. Islam memberikan batasan yang sangat elegan melalui Surah Al-Kafirun: "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
Poin pentingnya adalah:
Dalam Akidah: Kita teguh memegang keyakinan kita tanpa berkompromi.
Dalam Muamalah (Sosial): Kita berbagi kasih sayang, keadilan, dan bantuan kepada siapa pun tanpa memandang baju agamanya.
Seorang Muslim yang toleran adalah mereka yang bisa berbagi makanan dengan tetangga non-Muslim tanpa harus ikut menyembah apa yang tetangganya sembah. Inilah bentuk penghormatan tertinggi terhadap perbedaan.
4. Mengapa Dunia Membutuhkan Tasamuh Saat Ini?
Di era informasi di mana kebencian mudah tersebar melalui ujung jari, sikap Tasamuh adalah perisai. Pentingnya toleransi dalam Islam saat ini mencakup:
Menangkal Radikalisme: Menunjukkan bahwa Islam adalah agama cinta, bukan kekerasan.
Stabilitas Bangsa: Terutama di Indonesia, toleransi adalah pengikat keberagaman agar tetap utuh dalam bingkai persatuan.
Dakwah yang Sejuk: Orang akan lebih tertarik pada keindahan perilaku seorang Muslim daripada hanya kata-katanya.
"Toleransi tidak menuntut kita untuk mencintai apa yang tidak kita sukai, tetapi menuntut kita untuk menghormati apa yang orang lain cintai."
Kesimpulan
Toleransi dalam Islam adalah manifestasi dari kasih sayang Tuhan yang tidak terbatas. Dengan bersikap toleran, kita tidak sedang merendahkan agama kita, melainkan justru sedang meninggikan martabat Islam di mata dunia. Mari jadikan setiap interaksi kita sebagai jembatan, bukan tembok, sehingga dunia bisa melihat bahwa Islam benar-benar merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Komentar
Tuliskan Komentar Anda!